Showing posts with label Cerita Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Inspirasi. Show all posts

Rahasia Si Untung

Rahasia si Untung

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek.
Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung.

Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya. Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang-orang beruntung dengan yang sial.

Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesannya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan empat faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam. Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya: – Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi. – Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umumnya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang-orang semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yang mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka. Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk teman semua.

Siap mulai menjadi si Untung?

Anak Buta Dan Perampok

Moore adalah seorang dokter terkenal dan dihormati, melalui tangannya sudah tak terhitung nyawa yang diselamatkan, dia tinggal disebuah kota tua di Prancis. 20 tahun yang lalu dia adalah seorang narapidana, kekasihnya mengkhianati dia lari kepelukan lelaki lain, karena emosinya dia melukai lelaki tersebut, maka dia dari seorang mahasiswa di universitas terkenal menjadi seorang narapidana, dia dipenjara selama 3 tahun.

Setelah dia keluar dari penjara, kekasihnya telah menikah dengan orang lain, karena statusnya sebagai bekas narapidana menyebabkannya ketika melamar pekerjaan menjadi bahan ejekan dan penghinaan. Dalam keadaan sakit hati, Moore memutuskan akan menjadi perampok. Dia telah mengincar di bagian selatan kota ada sebuah rumah yang akan menjadi sasarannya, para orang dewasa dirumah tersebut semuanya pergi bekerja sampai malam baru pulang kerumah, didalam rumah hanya ada seorang anak kecil buta yang tinggal sendirian.

Dia pergi kerumah tersebut mencongkel pintu utama membawa sebuah pisau belati, masuk kedalam rumah, sebuah suara lembut bertanya, “Siapa itu?” Moore sembarangan menjawab, “Saya adalah teman papamu, dia memberikan kunci rumah kepadaku.”

Anak kecil ini sangat gembira, tanpa curiga berkata, “Selamat datang, namaku Kay, tetapi papaku malam baru sampai ke rumah, paman apakah engkau mau bermain sebentar dengan saya?” Dia memandang dengan mata yang besar dan terang tetapi tidak melihat apapun, dengan wajah penuh harapan, di bawah tatapan memohon yang tulus, Moore lupa kepada tujuannya, langsung menyetujui.

Yang membuat dia sangat terheran-heran adalah anak yang berumur 8 tahun dan buta ini dapat bermain piano dengan lancar, lagu-lagu yang dimainkannya sangat indah dan gembira, walaupun bagi seorang anak normal harus melakukan upaya besar sampai ke tingkat seperti anak buta ini, setelah selesai bermain piano anak ini melukis sebuah lukisan yanag dapat dirasakan didalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman, dunia anak buta ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung, yang bulat dan persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia melukis dengan sangat serius dan tulus.

“Paman, apakah matahari seperti ini?” Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia melukis di telapak tangan anak ini beberapa bulatan, “Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan.”

“Paman, apa warna keemasan itu?” dia mendongakkan wajahnya yang mungil bertanya, Moore terdiam sejenak, lalu membawanya ketempat terik matahari, “Emas adalah sebuah warna yang sangat vitalitas, bisa membuat orang merasa hangat, sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan.”

Anak buta ini dengan gembira dengan tangannya meraba ke empat penjuru, “Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat, dia pasti akan sama dengan warna senyuman paman.” Moore dengan penuh sabar menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk barang, dia sengaja menggambarkan dengan hidup, sehingga anak yang penuh imajinatif ini mudah mengerti. Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat serius, walaupun dia buta, tetapi rasa sentuh dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat.

Akhirnya, Moore teringat tujuan kedatangannya, tetapi Moore tidak mungkin lagi merampok. Hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat dia akan melakukan kejahatan lagi, berdiri di hadapan Kay dia merasa sangat malu, lalu dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay, “Tuan dan nyonya yang terhormat, maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian, kalian adalah orang tua yang hebat, dapat mendidik anak yang demikian baik, walaupun matanya buta, tetapi hatinya sangat terang, dia mengajarkan kepada saya banyak hal, dan membtka pintu hati saya.”

Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran, dan memulai karirnya sebagai seorang dokter.

Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini, kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia, setiap mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya, duduk disebuah sudut yang tidak mencolok, mendengarkan music indah menyirami jiwanya yang dimainkan oleh seorang pianis yang dulunya buta.

Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya, Kay kecil yang tinggal didalam dunia yang gelap, sama sekali tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.

Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat melakukan kejahatan, sedikit harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa, atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang, seperti Moore yang telah membantu banyak orang, ketika mengalami putus asa maka bukalah pintu hatimu, maka cahaya harapan akan menyinari hatimu.

Jadilah Pelita Bagi Setiap Orang

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata:
"Buat apa saya
bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."
Dengan lembut sahabatnya menjawab,
"Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak
menabrakmu."

Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.
Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel,
"Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!"
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini sibuta bertambah marah,
"Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa melihat saya!"
Pejalan itu menukas,
"Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!"
Si buta tertegun?. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf,
"Oh maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."
Si buta tersipu menjawab,
"Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya."
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Merekapun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun,
"Maaf, apakah pelita saya padam?"
Penabraknya menjawab,
"Lho,saya justru mau menanyakan hal yang sama."
Senyap sejenak? secara berbarengan mereka bertanya,
"Apakah Anda orangbuta?"
Secara serempak pun mereka menjawab,
"Iya,"
Sembari meledak dalam tawa, merekapun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja Ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini,
"Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai arah rintangan (tabrakan!).

Sibuta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk kearah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorangpun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan:

Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

sumber:Motivasi Hidup dan berbagai sumber



Perangkap Tikus

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam.
"hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak
"Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...."
Ia mendatangi
Ayam dan berteriak,
"ada perangkap tikus"
Sang Ayampun berkata,
"Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"

Sang tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak dengan kerasnya, sang kambing pun berkata
"Aku turut bersimpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"

Tikus lalu menemui Sapi, ia mendapat jawaban yang sama.
"Maafkan aku, tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"

Ia lalu lari kehutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata
"Ahhh...Perangkap tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku".
Akhirnya sang tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan
menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras dari perangkap tikusnya yang berbunyi, menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata yang tertangkap adalah seekor Ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan karena terkena gigitan dari ular itu.

Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dan kemudian istrinya sudah boleh pulang atas saran dari dokter, namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam (kaki ayam) oleh suaminya (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Namun sang istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan...sang tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

BAGAIMANA, KALAU SUATU HARI KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA...PIKIRKANLAH SEKALI LAGI!!!!



10 wanita Yang Mengubah Dunia

Banyak wanita-wanita yang sukses merubah dunia dengan visi mereka. Mereka dapat menjadi inspirasi sekaligus legenda buat kita semua. dari ribuan wanita-wanita perkasa ini berikut daftar 10 wanita yang dapat memberikan inspirasi buat kita, and here they are.

1. Mother Teresa (1910-1997)
Perempuan yang menghabiskan hidupnya untuk melayani masyarakat miskin ini, menjadi pahlawan dan
global icon untuk kepedulian terhadap orang lain. Secara pribadi, perempuan yang meninggal di tahun 1997 ini memberi pelayanan terhadap 1000-an orang yang sakit dan sekarat di daerah Calcutta India. Mother Teresa akhirnya mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian di tahun 1979. Dia telah sukses mengubah dunia dengan kemuliaannya.

2. Indira Gandhi (1917-1962)
Perdana Mentri pertama di India yang sempat berkuasa selama dua priode 1966-1977 dan 1980-1984. Dia di bunuh di tahun 1984 oleh bodyguard sikh. Kebijakan dan Visinya yang terkenal adalah Green Revolution yang berdampak kemajuan di bidang agricultur dan makanan di india. Wanita ini akhirnya menjadi pahlawan di India setelah kematiannya yang mengenaskan itu.

3. Marilyn Monroe (1926-1962)
Lahir dengan nama asli
Norma Jean Baker. Hidupnya dalam kemiskinan di masa kecilnya akhirnya melejit to become one of the most iconic filem legends, filem-filemnya selalu sukses dan menjadi banyak inspirasi oleh wanita-wanita di seluruh dunia. Tapi dia lebih terkenal karena fotonya yang selalu good looking dan aura yang di pancarkan full of glamour and sophistcation.

4. RA Kartini (1879-1904)
"Habis Gelap Terbitlah Terang", itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaum perempuan dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamanya. Buku itu menjadi pendorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepang dan Rembang.

5. Margaret Thatcher (1925)
Julukan
The Iron Lady alias wanita besi pantas disandangnya, she's leader and revolutionary women from United Kingdom. Margaret Thatcher perdana mentri wanita pertama di Inggris yang berkuasa paling lama, dari tahun 1979-1990. Kebijakan politiknya yang keras di dengar diseluruh dunia. Biarpun dia seorang wanita, tapi banyak lawan politiknya yang takluk dengannya. Presiden Amerika pun pernah diancamnya untuk segera menarik pasukannya dan menghentikan perperangan di Irak. Bahkan beliau berhasil meningkatkan perekonomian di Inggris dan kebijakan ekonominya membuat dunia aman dari kaum kapitalis.

6. Oprah Winfrey (1954)
Wanita berkulit hitam ini menjadi panutan wanita-wanita dunia khususnya yang berkulit hitam. Acara talk shownya
The Oprah Winfrey Show banyak memberi inspirasi buat masyarakat di seluruh dunia. Bahkan orang-orang berlomba-lomba untuk datang ke acara ini dan antri untuk menjadi bintang tamunya. Acara talk shownya akhirnya menjadi program TV terpopuler di dunia, Ia juga mendirikan beberapa organisasi kemanusiaan yang berdiri dibawa naungan Oprah Winfrey Foundaion.

7. Madonna (1958)
Madonna
is the most successful female musician of all time. Ia telah sukses menjual sekitar 250 juta kopi album rekamannya. Madonna pun akhirnya banyak mempengaruhi dan menginspirasi gaya wanita-wanita di dunia, Ia juga sosok penyanyi yang konsisten dengan musik popnya yang sampai sekarang masi produktif.

8. Lady Diana (1961-1997)
Kecantikan dan kelembutannya banyak dipuja oleh wanita diseluruh duia, istri dari pangeran Charles ini banyak mendapatkan sorotan selama hidpnya. Mulai dari gaya dandannya, kepeduliannya terhadap sesama, keluarganya dan kehidupan pribadinya. Dia akhirnya meninggal karena kecelakaan di tahun 1997. Semua orang pun merasa kehilangan akan sesorang putri yang berpengaruh besar terhadap kemajuan wanita di dunia.

9. Margaret (Meg) Whitman (1959)
Wanita ini
menjabat sebagai Chief executive, eBay ini menduduki di posisi 5 word's 100 Most powerful women versi majalah Forbes di tahun 2008 lalu, karena keberhasilannya membangun online yang khusus untuk jual beli produk. Kekayaannya pribadinya yang mencapai $ 1.6 milyar menjadiakan Ia sebagai wanita terkaya di planet ini.

10. Melinda Gates (1967)
Melalui
The Bill & Melinda Gates Foundation, istri dari juragan Microsoft Bill Gates ini banyak memberikan pertolongan kepada anak-anak dan masyarakat yang membutuhkan biaya kesehatan dan pendidikan di seluruh dunia. Bahkan biaya yang di salurkannya mencapai $ 28.8 milyar yang keseluruhannya di sumbangkan kepada orang yang kurang mampu.



Empat Jenis Kuda dan Empat Jenis Manusia

Alkisah, suatu hari Buddha Sakyamuni duduk di pondok sebuah hutan bambu. Para pengikutnya yang bepergian keluar meminta sedekah satu persatu sudah kembali. Mereka mengambil air di pinggir danau, mencuci bersih kaki dan tangan mereka dari debu selama perjalanan. Mereka dengan tenang datang dan duduk bersila dihadapan Buddha mendengar ceramah Buddha. Buddha duduk bersila dengan welas asih dan mulai bercerita kepada murid-muridnya.

Di dunia ini ada 4 jenis kuda.

Kuda yang pertama adalah kuda yang penurut, pemiliknya memasang pelana dan penutup mata. Sehari dia dapat berjalan ribuan kilometer, kecepatannya bagaikan meteor. Ketika pemiliknya mengangkat pecutnya (cambuk), melihat bayangan pecut dia sudah tahu kemauan pemiliknya. Kuda itu bergerak maju atau mundur, cepat atau lambat, segera memahami kemauan pemiliknya sehingga dengan cepat bisa mencapai tujuan. Dia adalah kuda penurut yang paling baik.

Jenis kuda yang kedua, ketika pemiliknya mengangkat pecutnya, dia melihat bayangan pecut, tetapi tidak segera bergerak. Ketika pecut tersebut memecut ke ekornya, dia baru tahu kemauan pemiliknya, lari dengan cepat, dapat dikatakan responnya cepat, merupakan seekor kuda kuat yang cukup baik.

Jenis kuda yang ketiga, tidak peduli pemiliknya berkali-kali melecutkan pecutnya, ketika melihat bayangan pecut, tidak mempunyai respon. Ketika perut bagaikan tetesan hujan memercut ke ekornya, dia masih tidak bergerak, responnya sangat lamban. Ketika pecutnya menghantam badannya dia baru sadar, bergerak sesuai dengan kemauan pemiliknya. Dia adalah seekor kuda dengan respon yang lamban.

Jenis kuda yang keempat, ketika pemiliknya membunyikan pecut, dia tidak peduli, ketika pecut berkali-kali memercut ke badannya, dia masih tidak peduli. Ketika majikannya menjadi sangat marah dan menyepak kakinya. Akhirnya, Kuda itu merasa kesakitan hingga menusuk tulang, sekujur tubuhnya berdarah, dia baru tersadar dari mimpinya, berlari dengan membabi buta. Dia adalah seekor kuda yang susah diatur, respon lamban, bandel dan kuda yang sangat pemarah.

Bercerita sampai disana, sang Buddha istirahat sejenak.

Dengan pandangan mata lembut memandang ke murid-muridnya. Melihat para muridnya dengan serius mendengarnya, lalu Buddha melanjutkan ceritanya. ”Para muridku! Ke empat jenis kuda ini bagaikan manusia yang mempunyai bakat dasar yang berbeda".

"Manusia yang pertama ketika mendengar perubahan didunia ini, kehidupan yang akan dimusnahkan oleh petaka, dengan cepat sadar, dengan giat berusaha berbuat lebih baik yang dapat merubah nasibnya. Seperti jenis kuda yang pertama, melihat bayangan pecut sudah dapat melesat kedepan dengan cepat, tidak menunggu pecutan maut merengut nyawanya baru menyesal kemudian.”

Jenis manusia yang kedua, melihat kehidupan di dunia ini yang beraneka ragam, nasib baik dan nasib malang yang menimpa, kelahiran dan kematian, dengan cepat dapat memecut diri sendiri dengan cepat berbuat lebih baik lagi. Seperti jenis kuda yang kedua, percut baru mengena ke ekornya segera sadar dan melesat lari dengan cepat mencapai tujuan.”

Jenis manusia yang ketiga, melihat sanak keluarga dan kerabat sebelum meninggal terjangkit penyakit menanggung penderita tubuh yang membusuk dan kesakitan sampai meninggal, baru sadar dan mulai menghargai kehidupan dan berbuat lebih baik. Seperti jenis kuda yang ketiga ketika merasakan percutkan yang sangat menyakitkan segenap tubuh baru tersadar, responnya sangat lamban.”

Sedangkan jenis manusia keempat, jika diri sendiri yang terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan maut sedang menanti, pada saat ini baru menyesal. Kenapa dahulu tidak berusaha berbuat lebih baik, menyia-nyiakan kehidupan di dunia ini. Seperti jenis kuda yang keempat, ketika kesakitan bagaikan menusuk ke tulang, baru berlari dengan cepat. Tetapi semua itu sudah terlambat.”

sumber: diambil dari berbagai sumber



Penyebab Konflik

Pada suatu ketika YM Mahakaccana
sedang berdiam di Varana di tepi Danau Lumpur. Pada saat itu
brahmana Aramadanda mendekati YM Mahakaccana dan bertukar salam dengannya. Setelah selesai bertukar salam dan bertegur sapa, dia duduk di satu sisi dan bertanya kepada YM Mahakaccana.

Apakah penyebab dan alasannya, Guru Kaccana, sehingga bangsawan berselisih dengan bangsawan, brahmana dengan brahmana, perumah tangga dengan perumah tangga?”
“Wahai brahmana, karena nafsu akan kesenangan indera, karena kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi dan mengukuhi kesenangan kesenangan indera maka bangsawan berselisih dengan bangsawan, brahmana dengan brahmana, perumah tangga dengan
perumah tangga.”

Tetapi, Guru Kaccana, apakah penyebab dan alasannya sehingga petapa berselisih dengan petapa?”
“Brahmana, karena nafsu terhadap pandangan, karena kemelekatan, ikatan, keserakahan, obsesi, mengukuhi pandangan-pandangan maka petapa berselisih dengan petapa.”

(Anguttara Nikaya II, vi, 6)

(Petapa/agamawan) dengan orang biasa lainnya adalah keinginan yang berlebihan
(keserakahan) pada kesenangan-kesenangan yang memuaskan indera. Sedangkan
penyebab perselisihan para petapa (agamawan) dengan petapa lainnya adalah keinginan yang berlebihan (keserakahan) untuk mempertahankan
pandangan-pandangannya.

Kesimpulan yang didapatkan adalah bahwa dua hal utama yang dapat menyebabkan perselisihan (siapapun orangnya) yaitu:
1.
Keegoisan untuk mempertahankan pandangan-pandangan yang dimiliki.
2.
Keserakahan untuk memiliki/mendapatkan sesuatu yang digunakan vvv untuk memuaskan kesenangan indera.

sumber: dikutip dari berbagai sumber



Jadilah Orang Baik Nan Bijaksana

Ada cerita dari Zen dimana diceritakan ada dua orang bikhu yang hendak menyebrangi sebuah sungai. Bikhu yang pertama adalah seorang bikhu senior dan yang satunya lagi adalah bikhu yang masih muda.
Waktu mereka sedang berusaha menyebrangi sungai itu, mereka berdua melihat seorang wanita yang masih muda mendapat kesulitan untuk menyebrangi sungai yang akan mereka lewati. Hal ini membuat bikhu yang masih muda itu bingung, sebab ada
Vinaya kebikhuan yang melarang seorang bikhu memegang wanita.
Tapi ketika wanita itu memohon bantuan dari bikhu yang senior untuk menyebrangi sungai, tanpa ragu-ragu bikhu senior itu lalu membantu si wanita itu dengan
mengendongnya untuk melewati sungai bersama-sama.

Sementara mereka bertiga bersama-sama melewati sungai, bikhu yang masih muda itu heran dengan perbuatan bikhu seniornya itu. Ia berfikir, “bukankah menurut vinaya kebikhuan, seorang yang menjadi bikhu itu, dirinya akan dibatasi untuk tidak memegang seorang wanita apalagi mengendongnya?”
Meskipun wanita yang digendong biku senior itu
telah pergi jauh dan mereka juga telah berjalan jauh melewati sungai itu, bikhu yang masih muda itu terus saja berfikir mengapa bikhu seniornya melanggar vinaya kebikhuan. Akhirnya bikhu muda itu memberanikan diri untuk berbicara kepada bikhu seniornya. Ia berkata: “Bhante mengapa bhante mengendong seorang wanita ketika kita melewati sungai? bukankah tindakan itu melanggar vinaya seseorang yang menjadi bikhu?"

Bikhu senior hanya menjawab kepadanya: “wanita apa yang saya gendong? walaupun anda melihat saya mengendong seorang wanita, tetapi pikiran saya sudah lama sekali tidak memperhatikan lagi wanita. Sebaliknya walaupun saya tidak melihat anda mengendong seorang wanita, tetapi sampai sekarang pun anda masih terus saja mengendong dan membawa-bawa wanita di dalam pikiran anda”
Sekarang saya akan mencoba
memberikan penjelasan dari cerita zen itu.
Kedua orang yang menjadi bikhu itu diumpamakan sebagai orang-orang yang mau
melatih diri mereka untuk mencapai keadaan yang lebih baik. Dan perumpamaan ini bisa dipakai oleh siapa saja yang mau berusaha menjadi lebih baik, bukan harus seorang bikhu / memiliki pandangan tertentu saja.
Bikhu senior
mengambarkan seorang yang baik serta memiliki pengalaman dan kebijaksanaan yang tinggi. Sedangkan bikhu yang masih muda mengambarkan seorang yang baik yang taat pada aturan yang diberikan oleh pandangan yang diterimanya.

Seseorang yang mau mencapai keadaan yang lebih baik, ia tidak cukup hanya berjanji saja untuk menjadi orang yang baik, tetapi ia harus berusaha untuk mencapai tujuannya itu. Hal ini digambarkan dimana para bikhu berusaha untuk menyebrangi sungai. Dan di dalam setiap usaha yang dilakukannya, ia pasti akan menemukan masalah yang harus dihadapinya. Hal ini dijelaskan dengan perumpamaan dimana para bikhu itu melihat seorang wanita yang kesulitan untuk menyebrang sungai. Kebingungan yang dialami bikhu muda karena adanya vinaya kebikhuan yang melarangnya memegang seorang wanita, mengambarkan bahwa seseorang yang berusaha bisa mendapatkan suatu masalah yang akan membuatnya kebingungan / serba salah seandainya ia harus mengambil suatu keputusan untuk menyelesaikan masalahnya itu, karena masalahnya itu tidak bisa diselesaikan oleh suatu aturan-aturan agama dan yang sejenisnya, yang selama ini ia anggap benar. Masalah yang seperti itu hanya bisa diselesaikan dengan kebijaksanaan orang tersebut.

Supaya menjadi orang yang bijaksana, seseorang harus melatih dirinya untuk keluar dari bentuk-bentuk dualisme seperti benar / salah dll. Ia juga harus melatih dirinya untuk tidak terikat pada pandangan / aturan-aturan dogmatis yang dianggapnya benar. Hal ini dikarenakan suatu bentuk kebijaksanaan tidak memihak pada salah satu bagian dari dualisme, seperti hanya menerima kata benar, baik, boleh, aku, peraturan, suci, dll, lalu menolak kata-kata salah, jahat, tidak boleh, kamu, bukan peraturan, hina, dll. Maka suatu keputusan yang diambil dengan cara yang bijaksana akan selalu menjadi jalan tengah dari suatu permasalahan. Tetapi suatu bentuk aturan masih terikat pada dualisme dan kondisi / keadaan yang dibuat dalam aturan itu, sehingga seseorang yang melanggar suatu bentuk aturan dapat dikatakan telah melakukan kesalahan. Hal ini berarti seseorang yang mengikuti suatu bentuk aturan tertentu dan ia terikat pada aturan itu, maka ia tidak akan dapat menumbuhkan kebijaksanaan pada dirinya, apalagi kalau ia juga tidak memahami arti bentuk aturan tersebut. Suatu bentuk aturan hanya dapat mengendalikan diri seseorang pada kondisi-kondisi tertentu saja untuk menjadi lebih baik, dan itu pun masih tergantung pada benar / salah aturan itu.

Perumpamaan dari bikhu senior yang tanpa ragu-ragu mengendong seorang wanita, mengambarkan seseorang yang sudah keluar dari bentuk-bentuk dualisme karena ia sudah tidak terikat pada aturan-aturan yang dogmatis yang dianggapnya benar. Ia juga tidak akan memihak pada kata benar atau menolak pada kata salah dari suatu aturan yang diterimanya, tetapi ia sudah memahami arti dari bentuk aturan itu, sehingga ia dapat mengambil keputusan yang bijaksana sebagai jalan tengah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Bagi orang-orang yang masih terikat kuat pada dualisme, pasti akan merasa heran atau menganggap salah pada orang yang bisa mengambil suatu keputusan dengan bijaksana, jika keputusannya itu melanggar aturan yang selama ini dianggap benar. Hal ini diumpamakan dengan keheranan bikhu muda yang heran melihat perbuatan bikhu seniornya. Sedangkan bikhu muda itu terus saja berfikir mengapa bikhu seniornya melanggar vinaya, mengambarkan seseorang yang masih terikat pada dualisme benar dan salah dari suatu aturan yang diterimanya. Ia bisa mengatakan salah pada orang lain hanya karena melihat kondisi seseorang yang tindakannya tidak sesuai dengan aturan yang diterimanya. Orang itu hanya mengikuti begitu saja dan taat pada bentuk aturannya, tetapi ia tidak memahami dengan jelas maksud dari aturannya itu. Akibatnya kebijaksanaan tidak tumbuh di dalam pikirannya.
Kalau anda memperhatikan dikehidupan sehari-hari, ternyata banyak orang yang baik, tetapi
tindakannya seperti bikhu muda itu.

Orang itu taat menjalani suatu aturan dari pandangan yang mereka anggap benar, misalnya: harus vegetarian, wajib puasa, harus beribadah pada hari tertentu dll, tetapi orang itu tidak menyadari bahwa dirinya telah terikat pada aturannya sendiri. Maka jika ada suatu kondisi yang mungkin orang lain tidak bisa menjalankan aturannya, mereka tidak bisa memberikan solusinya dengan bijaksana. Malahan mereka hanya mempertahankan aturannya dengan berbagai argumentasi yang membenarkan aturannya itu. Hal seperti itu digambarkan seperti bihku muda yang mengatakan bahwa bikhu seniornya tetah melanggar vinaya kebikhuan
Jawaban dari bikhu senior atas pertannyaan bikhu muda itu, adalah mengulang isi dari
dhammapada ayat 1 dan 2. Bahwa pikiran kita
sendirilahlah yang menentukan perbuatan baik atau jelek dan bukan apa yang ada diluar diri kita. Kita juga diajarkan untuk menjadi orang yang dapat menyikapi suatu
permasalahan dengan bijaksana tanpa terikat pada aturan-aturan yang dogmatis. Dan jika kita menilai bahwa bikhu yang masih muda itu lebih bodoh (kebijaksanaannya ) dari pada bikhu yang senior, ini berarti bahwa menjadi orang yang baik saja masih bisa dikatakan orang yang bodoh.

Maka marilah kita berusaha untuk menjadi orang yang baik yang bijaksana. Salah satu caranya adalah berusaha menyadari untuk tidak terikat pada aturan-aturan yang dogmatis, meskipun aturan itu berasal dari suatu pandangan yang kita percayai.
Demikianlah penjelasan saya tentang cerita zen di atas. Jika ada kritik dan saran atas tulisan ini jangan ragu-ragu untuk memberikannya untuk perkembangan batin kita semua.

sumber: Vimala Dhama



Sebuah Impian

Suatu hari, ada seorang muda yang bertemu dengan seorang tua yang bijaksana. Si anak muda bertanya, “Pak, sebagai seorang yang sudah kenyang dengan pengalaman tentunya anda bisa menjawab semua pertanyaan saya”.

“Apa yang ingin kau ketahui anak muda ?” tanya si orang tua. “Saya ingin tahu, apa sebenarnya yang dinamakan impian sejati di dunia ini”. Jawab si anak muda. Orang tua itu tidak menjawab pertanyaan si anak, tapi mengajaknya berjalan-jalan di tepi pantai. Sampai di suatu sisi, kemudian mereka berjalan menuju ke tengah laut. Setelah sampai agak ke tengah di tempat yang lumayan dalam, orang tua itu dengan tiba-tiba mendorong kepada si anak muda ke dalam air.

Anak muda itu meronta-2, tapi orang tua itu tidak melepaskan pegangannya. Sampai kemudian anak muda itu dengan sekuat tenaga mendorong keatas, dan bisa lepas dari cekalan orang tua tersebut. “Hai, apa yang barusan bapak lakukan, bapak bisa membunuh saya” tegur si anak muda kepada orang bijak tersebut. Orang tua tersebut tidak menjawab pertanyaan si anak, malah balik bertanya, ”Apa yang paling kau inginkan saat kamu berada di dalam air tadi ?”. “Udara, yang paling saya inginkan adalah udara”. Jawab si anak muda. “Hmmm, bagaimana kalo saya tawarkan hal yang lain sebagai pengganti udara, misalnya emas, permata, kekayaaan, atau umur panjang ?”tanya si orang tua itu lagi.

“Tidak ….. tidak …… tidak ada yang bisa menggantikan udara. Walaupun seisi dunia ini diberikan kepada saya, tidak ada yang bisa menggantikan udara ketika saya berada di dalam air” jelas kata si anak muda tersebut.

“Nah, kamu sudah menjawab pertanyaanmu sendiri kalau begitu. kalau kamu menginginkan sesuatu sebesar keinginanmu akan udara ketika kamu berada didalam air, itulah impian sejati” kata si orang tua dengan bijak.

Apakah anda saat ini mempunyai impian sejati ? Banyak orang yang mengatakan impian mereka ini, atau itu, tapi sebagian besar yang mereka sebutkan adalah keinginan belakang, bukan impian. Keinginan sifatnya tidak mendesak. Kalo bisa dapat syukur, nggak dapat juga tidak apa-apa. Kalo bisa mobil BMW, kalo nggak, Kijang juga gak apa-2. Ada pula orang yang mempersepsikan impian dengan harapan. Keduanya mirip namun berbeda. Harapan lebih kepada sesuatu di masa depan yang terjadi dengan sendirinya atau atas hasil kerja orang lain. Campur tangan kita kecil sekali, atau bahkan tidak ada. Impian tidak seperti itu. Apapun yang terjadi, mau tidak mau, dengan perjuangan sekeras apapun impian itu harus tercapai.

Impian terbaik seorang manusia adalah ketika dia berusia dibawah lima tahun. “Saya mau jadi dokter, mau jadi pilot, mau jadi pengusaha, dll ……” bukankah itu yang kerap dikatakan oleh anak-anak anda ? Sayangnya, begitu mereka menginjakkan kaki di bangku sekolah, mereka `diharamkan’ membuat kesalahan. Selain itu, mereka juga mulai diajarkan melihat realitas dunia – dari sisi yang negatif.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika, seorang remaja hingga dia berusia 20 tahun, rata-rata akan menerima 20.000 macam kata “NO”. “Jangan nakal, jangan main air, jangan kesana,jangan malas, jangan pergi, dan ribuan kata jangan yang lain. Memang tujuannya baik karena mengajarkan kepada kita agar dapat hidup dengan baik. Tapi karena terlampau seringnya kata “NO’ itu diterima, akan mempengaruhi pula alam bawah sadar manusia. Sehingga setiap kali kita memikirkan sesuatu yang baru, misalnya impian, yang pertama kali terlintas di benak kita adalah kata “NO”.

Banyak juga orang saat ini apabila ditanya apa impiannya, mereka menjawab tidak tahu. Sungguh malang nasib orang tersebut, karena orang yang tidak mempunyai impian sebetulnya secara mental mereka sudah `mati’. Mungkin orang-2 tersebut menganggap hidup adalah suatu nasib, sehingga sekeras apapun mereka bekerja
atau setinggi apapun impian mereka, namun apabila nasib tidak
menghendaki mereka sukses, mereka tidak akan sukses.

Atau ada pula type orang yang terjebak di dalam `comfort zone’, dimana kehidupan mereka saat ini sudah nyaman, atau setidaknya berkecukupan. Mereka merasa tidak perlu membuat suatu impian yang lebih besar. Mereka mungkin akan berkata “Ah, buat apa rumah besar-besar …. Bisa ngontrak aja sudah bagus"

Type ketiga, ada orang yang SENGAJA tidak mau membuat impian, karena malu jika ditertawakan orang lain, dianggap norak, nggak tau diri, atau bahkan gila. Nah, sebenarnya bukan anda yang norak, tapi karena hidup kita sudah terlalu penuh dikelilingi oleh orang-orang dengan pikiran negatif, dimana mereka akan merasa `tidak suka’ jika ada seseorang yang tadinya setingkat dengan mereka, lalu mau pergi ke tingkat yang lebih tinggi. Mereka akan berusaha dengan ejekan, sindiran dan usaha-usaha lain agar anda tetap `selevel’ dengan mereka. Kalau anda ingin membuktikan, coba besok pagi di kantor, katakan kepada rekan-2 anda , “Saya punya impian untuk jadi orang sukses. Saya akan berusaha keras mencapainya, untuk membawa saya dan keluarga saya ke tingkat yang lebih baik”. Lalu coba lihat ….. berapa banyak yang mentertawakan anda ….. Dan coba lihat pula berapa orang yang mendukung anda. Mungkin hampir tidak ada yang mendukung anda. Masih maukah anda meraih impian tersebut ….. setelah anda ditertawakan.

Saya yakin kita saat ini masih mampu menciptakan impian-impian kita, asalkan kita mau menghilangkan segala penghalang di dalam benak kita. Cobalah untuk berpikir bebas, seperti anak berusia 5 tahun. Jangan hiraukan apa yang dikatakan orang tentang impian anda, tapi berusahalah agar impian itu tercapai. Memang benar, kita tidak akan bisa mencapai semua impian kita. Tapi tanpa punya impian, anda tidak akan meraih apa-apa. Ciptakan impian, lakukan kerjanya, dan raih hasilnya !

sumber: sinarmotivasi.com



Kepalsuan

Di jaman dahulu ada seorang pemimpin pengembara. Dia pergi dari desa ke desa menjual berbagai macam barang. Pengikutnya paling sedikit 500 kereta yang ditarik kerbau jantan. Dalam salah satu perjalanannya, dia melewati hutan yang sangat lebat. Dia memperingatkan para pengikutnya,
“Sahabat-sahabatku, saat kita melintasi hutan ini, berhati-hatilah terhadap
pohon pohon beracun, buah beracun, daun beracun, bunga beracun dan bahkan sarang madu beracun. Sehingga, apapun yang belum pernah kita makan seperti buah, daun bunga atau apapun tidak boleh dimakan sebelum menanyakannya kepadaku terlebih dahulu.”

Mereka semuanya menyetujui, “Ya, tuanku.” Di hutan itu ada sebuah desa. Dan di perbatasan desa itu ada sebatang pohon yang disebut “pohon palsu”. Batang, cabang, daun, bunga dan buahnya sangat mirip dengan pohon mangga. Bahkan warna, ukuran, bau dan rasanya hampir persis dengan pohon mangga. Tetapi perbedaannya adalah buah palsu ini mengandung racun yang mematikan. Beberapa kereta mendahului pemimpinnya dan sampai di pohon palsu ini. Mereka semua lapar dan buah palsu ini kelihatannya seperti buah mangga matang yang lezat. Beberapa orang langsung memakan buah itu tanpa pikir panjang. Mereka menelannya sebelum seorangpun sempat mengatakan sesuatu. Yang lain ingat dengan pesan pemimpinnya, tetapi mereka menganggap pohon ini adalah pohon mangga yang lain jenisnya. Mereka merasa beruntung mendapatkan mangga matang di depan desa itu, sehingga mereka memutuskan untuk memakan beberapa buah mangga, sebelum dihabiskan. Dan ada juga beberapa yang lebih bijaksana dari pada yang lain.

Mereka memutuskan untuk menuruti nasihat pemimpin mereka.
Meski mereka tidak mengetahuinya, pemimpin pengembara ini adalah seorang
Boddhisatva. Saat pemimpin itu sampai di pohon itu, orang yang telah berhati-hati dan tidak memakan buah itu bertanya, “Tuan, apakah ini merupakan pohon yang aman untuk dimakan?” Setelah menyelidiki dengan hati-hati, dia menjawab, “Jangan, jangan. Ini memang kelihatan seperti pohon mangga, tetapi ini bukan. Ini adalah pohon palsu yang sangat beracun.Bahkan kita tak boleh menyentuhnya.” Orang yang telah memakan buah itu ketakutan sekali. Pemimpin mereka menyuruh mereka memuntahkan makanan itu secepatnya. Mereka lakukan ini, dan kemudian diberikan empat makanan yang manis untuk dimakan - kismis, pasta gula tebu, yogurt manis dan madu lebah. Dengan ini mereka menjadi lebih segar setelah memuntahkan buah palsu yang beracun itu.
Tetapi orang yang paling serakah dan bodoh yang tak bisa diselamatkan.
Mereka yang langsung memakan buah beracun itu tanpa pikir panjang.
Mereka tak bisa diselamatkan lagi karena terlambat dan racun itu telah bekerja dan membunuh mereka.

Biasanya, saat pengembara yang memakan buah itu meninggal sewaktu mereka tidur di malam hari. Pagi harinya penduduk setempat mendatangi mereka dan memegang kaki mayat-mayat itu menyeretnya ke tempat rahasia mereka dan menguburkannya. Kemudian mereka mengambil semua barang dagangan dan kereta kereta itu. Dan penduduk itu ingin melakukan hal yang sama saat ini. Saat subuh keesokan harinya, mereka mendatangi pohon palsu itu. Dan mereka saling bercakap-cakap, “Kerbau ini akan menjadi milik saya!” “Aku mau kereta itu” “Aku akan mengambil isi barang dagangannya saja!”. Tetapi saat mereka sampai di pohon palsu itu mereka melihat kebanyakan orang masih hidup.

Dengan terkejut, mereka bertanya, “Bagaimana kalian tahu bahwa ini bukanlah pohon mangga?” Mereka menjawab, “kami tidak tahu, tetapi pemimpin kami telah memperingatkan kami sebelumnya dan saat dia melihatnya dia mengetahui pohon itu.” Kemudian penduduk
menanyai pemimpin rombongan, “Oh orang bijaksana, bagaimana kamu tahu bahwa ini bukanlah pohon mangga?” Dia menjawab, “Aku mengetahuinya karena dua sebab. Pertama, pohon ini mudah dipanjat. Dan kedua, pohon ini ada tepat di perbatasan desa. Jika buah pohon ini tak dipetik, pasti berarti pohon ini tidak aman untuk dimakan!” Semua orang terheran-heran akan kebijaksanaan pemimpin ini berdasarkan kesimpulan yang sederhana. Kemudian rombongan itu melanjutkan perjalanan dengan aman.

sumber: VimalaDhama



10 Racun Kehidupan

"Barang siapa yang sebelumnya lengah tapi kemudian mawas diri, Ia niscaya menerangi dunia bagaikan bulan yang terbebas dari awan"
LOKA VAGGA XIII: 172

Mengapa kita tidak bahagia? Penyebabnya, kita hanya tahu apa yang kita lakukan untuk jadi orang yang bahagia, tetapi tidak tahu mengapa kita tidak bahagia. Perasaan tidak bahagia sebenarnya adalah penyakit yang segera harus disirnakan, antara lain:

1. Lari Dari Kenyataan
Salah satu
wujud nyata ketidak-dewasaan adalah lari dari kenyataan , dan ada kalanya mengkambinghitamkan atau menuding orang lain atas kesalahan yang diperbuat. Kondisi ini, selain merugikan orang lain, juga diri sendiri, karena kelemahan yang dimiliki akan semakin bertambah, serta dibenci oleh siapapun.

2. Takut
Ingatlah bahwa 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah
pertahanan diri yang paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi dari setiap masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan sebuah proses redukasi, yang perlu ditakuti dalam hidup ini hanyalah hiri, yaitu takut dari akibat dari perbuatan jahat.

3. Egois
selain, selalu
menganggap bahwa diriya adalah yang terbaik, juga tidak peduli dengan kesusahan atau penderitaan orang lain adalah salah satu ciri khas dari orang yang egois, orang yang seperti ini pasti akan jauh dari kebahagaan karena ketidakmampuannya membuat orang lain bahagia.

4. Bosan
Agar kondisi ini idak sampai timbul, salah satu cara
adalah kreatif, yang selain senang/suka mengawali sesuatu yang baru tapi juga mampu menerima tantangan sera menghadapi rintangan.

5. Rendah Diri
untuk menghilangkan kondisi ini, tidak ada cara lain diperbuat selain
meyakini bahwa setiap orang memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Si A bisa saja plus dibanding si B, C, dan D disuatu bidang dan sebaliknya. Ringkasnya, sebodoh-bodohnya orang pasti ada suatu kelebihan tersendiri, jadi pantaskah kita untuk rendah diri.

6. Sombong
Dalam hidup ini, tidak satupun yang pantas untuk disombongkan, karena selain
keberadaannya tidak kekal, juga tidak menjamin akan menimbulkan kebahagiaan. Diibaratkan si A kaya raya, pintar ataupun rupawan, pasti ia akan bahagia dengan kondisi ini? apakah kondisi ini permanen keberadaanya?

7. Tidak Percaya Diri
Umumnya, orang-orang yang sukses
tidak hanya semata-mata mengandalkan kealian yang dimiliki, tetapi didukung oleh adanya rasa percaya diri, contoh yang paling sederhana adalah akankah si A, B, ataupun C yang pawai dibidang komputer meraih sukses karna tidak adanya rasa percaya diri.

8.Malas
Salah satu faktor
penyebab kegagalan adalah kemalasan, yang enggan atau tidak mau mengawali dan berusaha lebih optimal. Bagaimanapun piawai/ pakarnya diri seseorang, jika penyakit malas selalu berada disisinya, maka semua peluang akan sirna dari kehidupannya. Dan dia akan selalu dalam jalur kegagalan/derita.

9. Picik
Berwawasan sempit, picik dan selalu berkeyakinan bahwasannya dirinya adalah yang terbaik.Merupakan salah satu penyebab hilangnya kesempatan-kesempatan untuk meraih sukses atau kebahagian hidup. Realitanya baik tidaknya diri seseorang sangatlah ditentukan oleh apa yang ia kontribusikan dan bukan semata-mata karena penampilan luar.

10. Benci
Penyakit kronis ini, selain menurunkan stamina fisik (jantung berdebar, sulit tidur atau konsentrasi,dll) tetapi juga akan menghilangkan sifat-sifat mulia. Logikanya penyakit batin yang sangat destruktif ini sudah harus disirnakan sedini mungkin. Karena keberadaannya selain menyusahkan diri sendiri, juga semua mahluk lainya. Satu-satunya cara yang tepat adalah dengan senantiasa mengembangkan cinta kasi yang universal.



Hati Manusia Ibarat Timbangan

Pada jaman dulu, di sebuah kota kecil di Tiongkok Utara terdapat dua toko yang menjual beras, toko yang satu bernama Yong Chang, yang satunya lagi bernama Feng Yu. Pemilik tua toko beras Feng Yu melihat saat itu situasi sedang kacau oleh peperangan tidak mudah untuk berdagang, lalu memikirkan suatu rencana yang bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Hari itu, dia mengundang ahli pembuat timbangan ke rumahnya, dengan sembunyi-sembunyi dia berkata kepada ahli pembuat timbangan itu, “Tolong Anda buatkan satu timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 15,5 kati, nanti ongkos pembuatannya saya tambah seratus tael.”
(1 kg yang sebenarnya adalah 16 kati)

Demi untuk mendapatkan uang seratus tael lebih banyak, dia telah mengabaikan moralnya, dan segera menyanggupi pemilik toko tua itu. Setelah selesai berpesan, pemilik toko itu pun meninggalkan ahli timbangan itu seorang diri di halaman rumahnya untuk membuat timbangan, dia sendiri berjalan ke dalam toko mengurus dagangannya.

Pemilik toko beras tua itu mempunyai empat orang putra, semua anaknya membantu dia mengolah toko beras itu. Putra yang bungsu dua bulan yang lalu baru menikah, istrinya adalah putri seorang guru pengajar.

Ketika mertuanya berpesan dengan ahli pembuat timbangan, dia sedang menjahit di dalam kamar, percakapan mertuanya dengan ahli timbangan telah terdengar semuanya olehnya.

Setelah ditinggal pergi oleh si pemilik toko, menantu baru itu merenung sejenak, berjalan keluar dari kamar dan berbicara dengan ahli pembuat timbangan itu, “Mertua saya itu sudah tua, pikirannya agak kacau, tadi pasti salah mengucapkan kata-kata. Mohon Anda buatkan timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 16,5 kati, nanti saya berikan ongkos lebih 200 tael. Tetapi, Anda harus berjanji tidak memberitahukan hal ini kepada mertua saya itu.” Ahli pembuat timbangan itu demi mendapatkan uang 200 tael lebih banyak lagi, dia mengabulkan permintaan itu.

Timbangan yang ukuran beratnya 1kg sama dengan 16,5 kati dengan cepat telah selesai dibuat, dan ahli pembuat timbangan itu sungguh tidak memberitahu perubahan berat timbangan itu kepada pemilik tua.
Pemilik toko yang tua itu sudah pernah beberapa kali membuatkan dacin kepada ahli timbangan itu, sangat mempercayai keahliannya, jadi timbangan baru setelah selesai dibuat hari itu juga dibawa ke dalam toko beras untuk dipergunakan.

Beberapa waktu kemudian, perdagangan toko beras Feng Yu kian makmur, pelanggan lama dari toko beras Yong Chang juga ikut meramaikan. Mereka berbondong-bondong beralih ke toko beras Feng Yu untuk membeli beras.

Tidak lama setelah itu, orang-orang yang tinggal di sebelah barat dan timur jalanan kota kabupaten itu juga mencari yang jauh dan melepaskan yang dekat, mereka menelusuri kampung dan jalanan datang ke Feng Yu untuk membeli beras, sedangkan toko beras Yong Chang yang berada di depan jalanan menjadi sepi sekali.

Tiba pada akhir tahun, toko beras Feng Yu mendapatkan keuntungan besar, sedangkan toko beras Yong Chang merugi hingga tidak bisa melanjutkan perdagangan, toko beras itu akhirnya dipindah-tangankan kepada Feng Yu.

Pada malam tahun baru, keluarga besar pemilik toko Feng Yu duduk berkeliling makan Shuijiao (sejenis pangsit, yang merupakan makanan utama malam tahun baru imlek untuk penduduk Tiongkok Utara) bersama.

Hati pemilik tua sedang bergembira, dia mengeluarkan pertanyaan untuk semua orang. Dia ingin tahu siapa yang dapat menebak bagaimana dia bisa menjadi kaya raya. Mereka semua berebut untuk berbicara, ada yang mengatakan berkat perlindungan Yang Kuasa, ada yang mengatakan pemilik tua menggunakan cara yang tepat untuk mengelola, ada juga yang mengatakan letak toko beras itu sangat strategis, ada pula yang berkata berkat kerja sama dari seluruh anggota keluarga.

Pemilik tua itu dengan tertawa dan berkata, “Jawaban kalian semuanya salah. Kita menggantungkan apa untuk menjadi kaya? Menggantungkan timbangan yang kita miliki! Timbangan kita beratnya 1kg sama dengan 15,5 kati, setiap menjual 1kg beras, kurang 0,5 kati, setiap hari menjual ratusan bahkan ribuan kilo beras, maka akan mendapatkan untung banyak, dengan mengumpul keuntungan ini dari hari ke hari, maka akhirnya kita menjadi kaya.”

Selanjutnya dia menceritakan bagaimana dia pada awal tahun telah membuat timbangan yang berat 1 kilonya sama dengan 15,5 kati dengan menambahkan 100 tael kepada ahli pembuat timbangan.

Mendengarkan penuturan ini, anak cucunya sangat takjub hingga melupakan Shuijiao di mangkuk mereka. Setelah ketakjuban mereda, semua orang memuji pemilik tua alias orang tua mereka ini sangat hebat, tidak menunjukkan gelagat sedikitpun, hingga orang sendiripun tidak menyadari, uang sudah masuk ke dalam saku. Mendengarkan perkataan ini pemilik tua merasa bangga, girang bukan kepalang, berulang-ulang memegangi janggut panjangnya.

Saat itu, menantu barunya perlahan-lahan berdiri dari atas bangkunya, dan berbicara kepada sang pemilik tua, “Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada ayah, sebelum saya beritahukan kepada ayah, saya berharap ayahanda mau berjanji memaafkan kesalahan saya.”

Dia menunggu pemilik tua menganggukkan kepala, dengan tenang-tenang saja menantu baru itu menceritakan kepada semua orang, tentang bagaimana dia pada awal tahun itu telah memberikan uang 200 tael lebih banyak kepada ahli pembuat timbangan untuk membuatkan timbangan yang beratnya 1 kilo sama dengan 16,5 kati.

Dia berkata, “Ucapan ayah sangat benar sekali, kita menjadi kaya berkat timbangan yang kita pakai. Timbangan kita setiap 1 kilo mempunyai kelebihan berat 0,5 kati, semua pelanggan tahu kita berdagang sangat jujur tidak mencuri timbangan, maka mereka semua mau membeli beras kita, maka usaha perdagangan kita menjadi makmur. Walaupun setiap kilonya kita mendapatkan untung lebih sedikit, tetapi jika penjualannya banyak keuntungan yang didapatkan akan besar pula. Kita telah menjadi kaya raya berkat ke-jujuran yang kita tunjukkan kepada pelanggan ”

Kali ini semua orang dibuat jadi lebih takjub, mereka terperangah. Pemilik tua tidak percaya bahwa hal ini adalah benar, dia mengambil dan menera timbangan yang dipergunakan setiap hari untuk menjual beras. Ternyata memang benar berat 1 kg-nya sama dengan 16,5 kati. Pemilik tua itu tercengang kaget, dia tidak mengatakan sepatah katapun, dengan perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Keesokan pagi setelah sarapan pagi, tepat pada awal tahun baru tanggal satu, pemilik tua mengumpulkan seluruh anggota keluarga, sambil melepaskan kunci kasir yang terikat di pinggangnya ia berkata, “Saya sudah tua, sudah tidak berguna. Kemarin semalaman saya telah mempertimbangkan, memutuskan mulai saat ini, menyerahkan kendali toko ini kepada menantu saya yang keempat, dikemudian hari, kita semua orang mematuhi kehendak dia!”

Semua orang bagai sebuah timbangan, dengan timpang sebelah (tidak jujur), orang lain akan dapat melihatnya dengan sangat jelas. Berdagang yang diutamakan adalah ‘kejujuran’, dan sebagai manusia bukankah kita juga harus demikian?

sumber: Sinar motivasi



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review